Feeds:
Pos
Komentar

Janji Tara

Namaku Tara. Aku gemar sekali duduk di balik jendela sembari memandang langit di atas sana. Bila siang tiba, aku gemar sekali menggambar awan-awan putih dengan aneka rupa. Dan bila malam tiba, aku gemar berbicara pada bulan dan bintang di atas sana. Sebab aku tidak punya teman yang bisa menyimpan rahasia dan cerita. Aku selalu merasa nyaman duduk di balik jendela. Bahkan ketika musim hujan tiba. Memandangi tetes-tetes air yang menempel di kaca jendela selalu menyenangkan. Meski kadang-kadang aku juga gemar bermain di bawah hujan, bila Ibu tidak sedang berada di rumah. Dan Ibu memang sering tidak ada di rumah. Sebab Ibuku sedang sibuk bekerja di luar sana. Ya, Ibuku memang harus bekerja demi menghidupiku. Sebab Ayahku entah berada di mana sejak aku dilahirkan ke dunia.

Ayahmu entah ada di mana sekarang. Tolong jangan tanya-tanya soal Ayahmu pada Ibumu ini kalau Tara memang sayang pada Ibu ya?” pinta Ibu suatu hari sembari memelukku. Ketika mulut kecilku bertanya tentang Ayah sepulang dari sekolah. Sebab setiap hari kulihat teman-teman sekelasku selalu dijemput ayah-ayah mereka. Teman-teman selalu mendapat pelukan dari ayah-ayah mereka. Pun pujian dan ciuman jika hari itu mereka telah melakukan hal yang hebat di sekolah.

Malamnya, setelah siang itu, kudengar Ibu menangis di kamarnya. Tangisan lirih dan menyayat, tangisan yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Sebab selama ini memang tidak pernah kulihat Ibu meneteskan airmata di depanku. Masih terngiang di telingaku kata-kata Ibu tadi siang. Tolong jangan tanya-tanya soal Ayahmu pada Ibumu ini kalau Tara memang sayang pada Ibu ya? Aku berlalu dari depan kamar Ibu menuju ke kamarku. Duduk meringkuk di bawah jendela dengan memeluk lutut. Aku menangis tanpa suara hingga tertidur dalam posisi yang sama, duduk memeluk lutut. Usiaku baru 10 tahun waktu itu.

*****

Hari ini, usiaku genap 30 tahun. Ibu sedang duduk merajut di ruang tengah. Ia tidak lagi harus bekerja keras untuk menghidupiku. Kini, giliranku untuk mengambil alih tanggung jawab menghidupi keluarga ini, aku dan Ibuku. Ya, sampai hari ini, kami masih tetap hidup berdua di sebuah rumah kecil di pinggir kota. Pekerjaanku sebagai editor di sebuah majalah mingguan mode dan perempuan memang tidak akan menghasilkan banyak uang, tetapi cukuplah untuk tidak membuat kami berdua kelaparan setiap hari selama sebulan, sebelum uang gaji bulan depan mampir ke dalam dompetku.

Ya, aku telah berusia 30 tahun hari ini. Selama itu pula hidup berdua hanya dengan Ibu, tanpa mengenal siapa Ayahku dan bagaimana wajah Ayahku. Hidup berdua dengan Ibu membuatku tumbuh menjadi perempuan yang tidak cengeng dalam menghadapi hidup. Ibu telah berhasil untuk mendidikku dengan tegas, menjadi Ibu sekaligus Ayah memang tidak pernah mudah untuknya.

Pernah seorang perempuan tetangga sebelah bertanya tentang Ayah pada Ibu dan Ibu hanya tersenyum menjawab pertanyaan itu sembari berlalu. Aku masih menyimpan dalam ruang ingatanku, bagaimana perempuan-perempuan tetanggaku itu begitu nyinyir menanyakan lelaki yang seharusnya berada di rumah dan melengkapi sebuah keluarga. Dan, memang lelaki itu tidak pernah hadir di sana, lelaki yang seharusnya menjadi kepala keluarga, suami, dan ayah. Sayangnya, Ibu tidak pernah merasa terganggu oleh kenyinyiran perempuan-perempuan tuna kegiatan itu. Waktu itu, Ibuku sibuk bekerja untuk menghidupiku dan dirinya sendiri.

Ya, kebiasaan Ibu yang tidak banyak bicara itu menurun padaku. Aku termasuk perempuan yang tidak banyak bicara di mana saja. Semasa sekolah dan kuliah, aku tidak punya banyak teman. Hanya mereka yang mendapat julukan kutu buku dari teman-teman lain, yang betah menjadi temanku. Sekarang di kantor pun, aku tidak terlalu banyak bicara. Lagipula tujuanku datang ke kantor untuk bekerja, bukan untuk bicara, itu menjadi prinsipku. Dan, prinsip itu yang membuatku tidak memiliki teman dekat di kantor. Bukan sebuah masalah besar untukku.

Hingga suatu pagi, aku mendapat kiriman bunga di atas meja kerjaku. Sebuah pot mungil yang ditumbuhi bunga krisan putih bertengger di sebelah monitor komputer kerjaku. Ada sebuah kartu mungil terselip di antara rimbun bunga-bunga putih itu bertuliskan kalimat singkat, semoga senyummu selalu secantik krisan ini. Tidak ada nama pengirim. Aku menengok kiri-kanan dari dalam bilik kerjaku. Kantor masih sepi, belum ada orang yang bisa ditanya perihal pot bunga krisan putih ini.

Setelah menyingkirkan pot bunga krisan putih dari sisi monitor komputer, aku mulai bersiap untuk bekerja. Ada begitu banyak rubrik dan artikel yang menunggu diedit hari ini, sebab mereka sudah harus masuk ke ruang cetak besok pagi. Sebentar kemudian, aku sudah tenggelam dalam pekerjaanku. Mencermati huruf, tanda baca, dan tata letak setiap rubrik dan artikel.

Diam-diam ada sepasang mata memperhatikan Tara bekerja dari sudut ruangan.

Pagi ini, Tara sarapan dengan buru-buru. Ibu sedang menyiapkan bekal makan siang untuknya di seberang meja. Tara harus segera ke bandara sebelum tertinggal pesawat yang akan membawanya ke Jakarta. Ya, seminggu ke depan, Tara mendapat tugas untuk mewakili kantor mengikuti pelatihan peningkatan mutu perusahaan.

Setelah menyelesaikan sarapan, Tara berpamitan pada Ibu. Sebuah taksi sudah menunggu di depan rumah dan siap mengantarnya ke bandara.

“Hati-hati di Jakarta. Jaga diri baik-baik dan jangan sampai terlambat makan,” begitu pesan Ibu sebelum Tara menutup pintu pagar dari luar.

“Iya,” jawab Tara pendek. Sopir taksi membantu memasukkan koper Tara ke dalam bagasi mobil. Tara sudah duduk manis di jok belakang, ketika sopir itu baru kembali duduk di jok depan.

“Selamat pagi, Ibu. Hendak diantar ke mana?” tanya sopir itu dengan sopan.

“Ke bandara, Pak.”

Dan, taksi itu pun segera melesat di jalan raya. Menuju bandara.

Satu jam kemudian, Tara sudah menginjakkan kaki di Jakarta. Seorang sopir taksi lain mengantar ke alamat yang disodorkannya. Hingga akhirnya, Tara sampai di depan sebuah gedung, tempat sebuah media cetak nasional berkantor.

“Terima kasih, Pak,” ucap Tara seraya mengangsurkan uang pada sopir sebelum ia keluar dari pintu belakang taksi.

Tara berjalan memasuki gedung dan menemui seorang resepsionis yang tersenyum ramah padanya. Tara menyerahkan selembar amplop berisi surat penugasan dari kantornya pada resepsionis tersebut. Sebentar kemudian, resepsionis itu menelepon setelah membaca surat dari Tara dan meminta Tara menunggu di lobby kantor untuk sesaat.

Tidak lama kemudian, seorang lelaki setengah baya datang menghampiri Tara yang sedang menunggu. Dia berbasa-basi sebentar sebelum mengajak Tara naik ke ruangan di lantai lima gedung ini.

*****

Hampir seminggu Tara berada di Jakarta. Sebab besok ia sudah harus kembali ke Yogyakarta, kota tempatnya lahir dan dibesarkan. Hari terakhir di Jakarta, ia menghabiskan waktu di kafetaria gedung kantor sebab hari ini memang hari bebas tanpa kerja. Tara menghadapi secangkir kopi dan sepotong croissant di mejanya, sedang matanya menyapu seluruh ruangan. Sepi. Masih terlalu pagi untuk makan siang, meski jam dinding sudah menunjuk angka 11.30. Belum ada pegawai kantor yang turun untuk makan siang. Hanya ada beberapa orang luar yang tampak sedang melakukan meeting-meeting kecil di beberapa sudut ruangan.

Tara melangkah menuju buffet berniat mengambil sepiring salad buah di sana. Baru beberapa langkah meninggalkan mejanya, Tara menabrak seorang lelaki setengah baya. Beberapa kertas kerja di tangannya jatuh berantakan di atas lantai.

“Maaf, Pak. Saya tidak melihat Bapak melintas tadi.” Tara meminta maaf sembari membantu Bapak itu membenahi kertas kerja yang berantakan.

“Tidak apa-apa, Mbak. Saya juga ceroboh tadi.” Bapak itu tersenyum pada Tara.

Wajah lelaki itu masih terlihat menarik, meski keriput sudah menggarisi beberapa bagian wajahnya. Tara masih membantu membereskan beberapa lembar kertas terakhir di atas lantai sampai jemari tangannya menyentuh anyaman simpul tali tua. Simpul tali yang digunakan sebagai tali pengikat flashdisk milik Bapak setengah baya di depan Tara. Warnanya sudah kusam, tetapi Tara mengenali simpul tali itu. Ya, simpul tali itu seperti buatan Ibunya. Ibu selalu memiliki ciri khas dalam membuat simpul tali. Sebab simpul-simpul tali itulah yang menghidupi Tara hingga dewasa dan simpul tali seperti itu hanya dibuat Ibu untuknya.

“Maaf, Bapak. Dari mana Bapak mendapatkan simpul tali seperti itu?” tanya Tara penasaran.

“Ooo, itu dari seorang teman lama saya. Dia menghilang, ketika saya menikah dengan istri saya. Kejadiannya sudah lewat dari 30 tahun lalu.” lelaki itu menjawab pertanyaan Tara. Matanya menerawang. Raut mukanya mendadak terlihat sedih.

“Maaf, saya tidak ingin mengungkit masa lalu Bapak.” Tara berdiri setelah selesai membantu membereskan kertas-kertas di lantai. Dan, Tara memang selalu tidak ingin mencampuri urusan pribadi orang lain.

“Oh, tidak mengapa. Terima kasih sudah membantu saya.” Bapak itu berusaha mengubah ekspresi sedih di wajahnya.

Tara mengangguk dan tersenyum. Semenit kemudian, ia kembali melangkah menuju buffet. Kembali pada niat semula mengambil sepiring salad buah di sana. Meski di kepalanya masih tersimpan tanda tanya besar tentang simpul tali itu.

Tara kembali ke mejanya, menikmati salad dan croissant dengan bergegas. Menghabiskan kopi di cangkir dengan segera. Pergi ke kasir dan membayar. Sebab ia sudah tidak merasa nyaman duduk berlama-lama di kafetaria. Lelaki setengah baya yang ditabraknya tadi memandanginya dengan curiga dari meja sebelah.

Malam terakhir di Jakarta, Tara mengikuti evaluasi kerja di lantai lima. Setelahnya, acara makan malam bersama di hall gedung ini. Dan, lelaki yang ditabraknya tadi siang ada di antara para undangan. Menghampirinya dan mengajukan beberapa pertanyaan pada Tara.

“Maaf, Mbak. Apakah Mbak juga dikirim sebagai peserta pelatihan di sini?” tanya lelaki itu. Pertanyaan pertama yang belum mengejutkan bagi Tara.

“Iya, Pak.” Jawab Tara singkat. Ia tidak nyaman dipandangi lelaki itu. Pandangan nakal dari seorang lelaki setengah baya.

“Maaf, kalau boleh tahu siapa nama Mbak?” tanya lelaki itu lagi.

“Tara. Memang ada masalah dengan saya, Pak?” tanya Tara balik pada lelaki itu. Ditentangnya pandangan nakal lelaki di depannya.

“Tidak. Wajah Mbak mengingatkan pada wajah teman saya di Yogyakarta semasa kuliah dulu. Namanya Saraswati. Dia cantik dan pandai seperti Mbak. Dia juga yang membuatkan simpul tali yang tadi siang Mbak tanyakan.” Lelaki itu menjelaskan agak panjang. Lelaki itu tersenyum nakal pada Tara.

Deg. Jantung Tara berdetak lebih kencang setelah mendengar penjelasan lelaki itu. Saraswati adalah nama Ibunya. Saraswati, si penyimpul tali dari Yogyakarta. Inikah lelaki yang pernah diceritakan Ibunya setahun lalu? Lelaki biadab yang telah mencampur obat tidur pada minuman Ibunya dan memperkosanya. Lelaki biadab yang meninggalkan Ibunya dan benih dalam kandungannya demi menikahi perempuan yang lebih kaya untuk sebuah pekerjaan dan jabatan hebat di sebuah departemen hebat di negeri ini. Tubuh Tara serasa terpaku di lantai. Dingin mengalir di sekujur tubuhnya.

“Dan, Anda pastilah Rahmat Malik. Orang yang telah memperkosa Saraswati si penyimpul tali dan meninggalkannya demi perempuan lain yang bisa memberi Anda uang dan jabatan.” Tara mengatakan dengan nada amat tegas. Ada sedikit kekesalan dalam nada suaranya.

“Jadi, Mbak ini anak dari Saraswati?” lelaki itu yang selanjutnya terkejut.

“Iya, saya adalah anak Saraswati. Dan secara biologis, Anda adalah ayah saya. Sayangnya, saya tidak pernah meminta pada Tuhan untuk punya seorang ayah yang biadab seperti Anda.” Tara berusaha meredam emosinya.

Ya, sejak setahun lalu ketika Ibu bercerita siapa Ayahnya. Tara sudah tidak lagi punya keinginan mencari Ayah. Sebab lelaki itu yang telah merusak masa depan Ibu. Membuat Ibu diusir dari rumah orangtuanya. Membuat Ibu harus menyendiri ke Yogyakarta dan memulai hidup baru demi janin dalam kandungannya. Demi dirinya bisa hadir ke dunia. Sebab Ibu menolak untuk melakukan aborsi seperti permintaan kedua orangtuanya.

“Maafkan saya, Tara. Saya tidak bermaksud meninggalkan Saraswati waktu itu….” Lelaki itu belum menyelesaikan penjelasannya ketika Tara memotong kata-katanya.

“Tidak perlu minta maaf pada saya. Minta maaflah pada Ibu saya. Itu pun bila Ibu saya masih punya maaf untuk Anda. Lagipula saya juga tidak butuh seorang ayah. Sebab bagi saya, ayah selalu memberi air mata pada saya dan Ibu saya. Sepanjang usia saya, saya memang tidak akan memerlukan Anda sebagai ayah saya.”

“Tara, saya sudah menerima hukuman Tuhan. Perempuan yang saya nikahi memang bisa memberi saya uang dan jabatan, tetapi ia tidak bisa memberikan saya keturunan. Tidak bisa memberikan saya seorang anak.”

“Itu urusan Anda. Bukan urusan saya.” Tara melangkah pergi. Langkahnya panjang-panjang dan cepat. Ia keluar dari hall dan naik ke lantai tujuh. Mengemasi barang-barangnya dan bergegas menuju bandara.

Sesampai di bandara, Tara menukarkan tiket yang dimilikinya dengan tiket penerbangan terakhir malam ini. Ya, Tara ingin segera kembali ke Yogyakarta. Tara ingin segera pulang ke rumah. Tara ingin segera kembali ke dalam kamarnya. Kembali ke dalam dunia kecilnya yang nyaman.

Perjalanan satu jam menuju Yogyakarta malam ini terasa begitu amat lama. Pandangan mata itu hampa. Tidak ada lagi cahaya seperti biasa. Cahaya yang bisa membuat Radityo rajin mengiriminya bunga setiap pagi selama setahun ini. Sayangnya, bunga-bunga itu tidak pernah bisa membuat Tara membuka pintu hatinya untuk Radityo. Sebab Tara tidak ingin mengulangi cerita hidup Ibunya. Sebab Tara tidak ingin memberi luka pada anak-anaknya kelak. Sebab Tara ingin menjalani lingkaran hidupnya sendiri, tanpa lelaki.

 ─Februari 2011

I Love The Way You Lie

 

Mulai sekarang kita berteman saja,” itu katamu dalam sebuah pesan singkat. Sebuah pesan singkat yang serupa listrik menyengat sekujur tubuh dan melucuti seluruh tulang di dalamnya. Aku tidak ingin menjawab pesan singkatmu dengan pesan singkat lain. Aku ingin mendengar suaramu menjelaskan semua. Aku meneleponmu dan bertanya mengapa, dan kau jawab, “Tidak ada apa-apa. Aku lebih nyaman kita berteman. Lagipula kita berbeda dalam segala hal. Kamu calon doktor, sedang aku hanya sarjana biasa, yang tidak punya pekerjaan mapan pula.”

Satu alasan yang sepertinya dibuat-buat. Sebab selama ini aku tidak pernah menjadikan perbedaan di antara kita sebagai perbedaan. Sebab selama ini aku menjadikan segala perbedaan itu jalan menuju sebuah tujuan yang sama, membangun impian kita. Sayangnya, impian itu harus buyar siang ini. Aku harus terbangun dari mimpi panjangku selama ini. Mimpi panjang selama tiga tahun tanpa akhir yang manis.

Siang ini, tiba-tiba aku merasa ada lubang besar menganga di ruang hati. Lubang besar, gelap, dan hitam. Mimpi buruk siang ini tidak pernah kupikir akan teralami ketika kau mengajakku berkunjung ke rumahmu dan berkenalan dengan seluruh anggota keluargamu. Dua tahun lalu.

Ya, dua tahun lalu. Pertemuan itu. Kunjungan itu. Seharusnya aku percaya pada indera keenamku waktu itu. Ketika Ibumu tidak menyambut hangat uluran tanganku. Ketika Ibumu yang lain berbicara dengan berbisik di ruang makan, yang berdekatan dengan ruang tamu. Ketika seluruh Ibumu menanyakan asal-usulku. Seharusnya aku percaya pada indera keenamku waktu itu. Keluargamu adalah keturunan darah biru, yang masih memperhitungkan bibit, bebet, dan bobot dalam memilih menantu. Meski selama ini aku tidak pernah membeda-bedakan orang dari bungkusnya, tetapi aku tidak bisa membuat orang lain bersikap sama padaku. Aku berbeda, minimal di matamu. Aku berbeda dalam pandangan keluargamu.

*****

Apa beda cinta dan cocok?” itu pertanyaan yang kau ajukan lewat surat elektronik. Setelah perbincangan singkat siang itu. Dan, kau jawab sendiri pertanyaanmu dengan penjelasan seluas-luasnya, penjelasan yang tidak kumengerti maksudnya. Sebab aku memang tidak ingin mencerna setiap kalimat dalam surat elektronik itu. Sebab aku sudah tahu simpulan akhirnya, KITA PISAH. Aku sudah cukup paham tanpa harus ada penjelasan panjang. Aku tidak akan bertanya apapun lagi atau berjuang untuk apapun. Sebab aku tahu di mana bibit, bebet, dan bobotku.

Dan, kabar sebulan lalu yang kuterima dari salah seorang Ibumu, amat tidak mengejutkan buatku. Kabar bahwa kau akan menikah tahun ini dengan perempuan ayu pilihan salah satu Ibumu. Perempuan yang pernah dekat denganmu dulu, sebelum kau menebar mimpi di ruang benakku. Perempuan yang lebih tekun mendekat padamu.

Berita yang amat tidak mengejutkan buatku. Dan, salah satu Ibumu memintaku untuk menghubungimu untuk mengucapkan selamat padamu. Baiklah, kalau itu yang diminta. Aku diminta mundur. Sepenuhnya mundur. Aku mundur dengan besar hati. Sebab aku memenuhi permintaan salah satu Ibumu untuk mengucapkan selamat atas rencana pernikahanmu tahun ini.

Dan, salah satu Ibumu bercerita padaku tentang ketekunan perempuan itu mendekatimu kembali. Menceritakan padaku tentang rasa kasihannya pada perempuan itu, yang terlalu sering berkunjung ke rumahmu. Juga keluarga perempuan itu yang sudah menanyakan kesungguhan hubungan kalian selama ini. Salah satu Ibumu pun mencoba menasihatiku untuk bersabar. Mungkin belum jodoh, begitu kata Beliau. Aku mendengar nasihat itu dengan baik. Minimal aku ingin terlihat sopan kali ini. Meski sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa lelaki yang kau panggil anak itu pun pernah menawarkan mimpi yang sama padaku. Berjanji akan datang ke rumah dan melamarku. Sayangnya, aku berbeda. Aku tidak perlu belas kasihan untuk janji yang diingkari itu.

*****

Pagi ini, aku terbangun dari tidur. Dan menemukan sebuah pesan singkat dari salah satu Ibumu. Mengabarkan ini dan itu seperti biasa. Aku masih membalasnya dengan sopan pagi ini. Entah esok atau lusa pagi.

Pagi ini, aku kembali melangkah di atas jalan kerikil itu. Tanpa alas kaki. Aku sedang menikmati segala sakit dan nyeri akibat terlalu banyak bermimpi. Sembari bergumam mengingat wejangan beberapa guruku dahulu, di negeri ini, perempuan tidak boleh sekolah terlalu tinggi. Meski negeri ini sudah menjunjung tinggi emansipasi. Lihat saja, masih ada lelaki yang melarikan diri kan? Kalau kau melanggar tabu, maka kau harus siap hidup dalam penjaramu sendiri.

Ya, sekarang aku sedang membangun penjaraku sendiri. Menjauhkan diri dari segala basa-basi. Dan, tolonglah mengerti bahwa aku memang lebih senang sendiri. Bebas melangkah kaki. Bebas tidak bangun pagi. Bebas tidak mandi pagi. Dan, tolonglah mengerti bahwa aku lebih nyaman sendiri. Dan, tolonglah mengerti dengan berhenti bertanya kapan aku akan mempersunting lelaki.

*****

Pagi ini, bersama secangkir cappuccino dan sebatang rokok putih, aku menikmati setiap kebohongan yang pernah kau ucapkan padaku. Kebohongan yang masih tersimpan rapi dalam ruang benakku. Kebohongan selama tiga tahun tanpa ujung serupa kepulan asap rokok yang menghilang entah.

Pagi ini, aku membuang segala kebohonganmu dalam setiap hembusan asap rokokku. Dan berharap semoga ia benar-benar menghilang dari seluruh ruang benakku. Kebohongan manis yang aku suka sebab ia telah mengajarku menjadi dewasa.

(16 Januari 2011)

Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku.

Ganang & Frida. Begitulah bunyi tulisan dengan tinta emas di atas sebuah kertas tebal berwarna merah marun. Sebuah undangan pernikahan. Baru saja sampai di tangan diantar seorang kurir tadi. Sedikit terkejut menerimanya, tetapi sudah ada pertanda sebelumnya. Beberapa pesan pendek memenuhi kotak pesan dalam telepon selularku seminggu lalu. Dari seorang perempuan bernama Frida. Perempuan yang akan dinikahi lelaki bernama Ganang. Lelaki yang pernah memberiku segenggam impian tentang membangun rumah harapan.

Rumah harapan yang hanya tinggal harapan semata. Setelah membaca undangan pernikahanmu. Bulan depan, tepat ketika aku harus memulai konsentrasi belajar di kampus biru. Rumah harapan yang hanya tinggal harapan semata. Sebab ia telah longsor bersama tetes-tetes airmata yang kian menderas dalam diam. Tanpa suara. Sebab ia telah dibongkar paksa tanpa pemberitahuan dari pemberinya.

***

Dingin masih menusuk tulang. Embun masih merangkai rayuan pada ujung-ujung daun di reranting pohon di depan kamar asrama. Tetangga kamar mungkin saja masih merangkai mimpi di peraduan, sedang aku masih terjaga di depan layar monitor. Ada banyak kertas yang harus dibereskan sebelum ayam jantan berkokok pagi ini. Tugas ini dan itu wajib diserahkan lengkap pada Ibu Dosen pagi ini. Tanpa alibi sedang patah hati.

Jemari tangan masih saja sibuk menekan tombol-tombol keyboard laptop. Sementara mata masih sibuk mencari kata demi kata yang terselip di antara literatur-literatur bertumpuk di sisi lain meja. Setelah seluruh kata terangkai sempurna di atas kertas kerja, tiba saatnya untuk mengguyur tubuh. Mengguyur segala keluh tentang harapan yang luluh. Sedang di luar sana, sayup-sayup berkumandang azan Subuh.

***

Langkah kaki tergesa di atas trotoar sebelum akhirnya berhenti di sebuah halte. Menunggu bus kota yang tak kunjung tiba. Ah, semoga tak terlambat, gumamku. Lima menit kemudian, sebuah bus kota berhenti di depan mata menyambut lambaian tanganku. Sepi. Hanya berdua dengan sopir bus yang memperlambat laju kendaraan. Bangku-bangku bus kota kosong. Lumayan, masih ada cukup waktu untuk menertawakan kebodohan diri di bus kota. Cukup sepuluh menit saja, sebelum bus berhenti di depan kampus.

Dan langkah kaki kembali tergesa. Menyusuri koridor gedung menuju ruang kuliah. Ah, untung belum terlambat, gumamku lagi. Masuk kelas bersama dengan Ibu Dosen yang membawa beberapa tas berisi buku-buku tebal bahan kuliah hari ini. Sementara melupakan ruang hati yang melompong akibat bualan omong kosong. Menyimak kuliah dengan seksama. Meluruskan kesalahpahaman hasil belajar semalam dalam diskusi bersama teman-teman di kelas. Menyenangkan. Pengetahuan baru yang kelak akan mengisi kekosongan-kekosongan di ruang kepala.

***

Hari-hari di kampus biru berjalan satu demi satu. Melupakan bilur-bilur biru yang sempat memenuhi ruang hati. Biar saja itu adalah salah satu bagian perjalanan menuju dewasa. Melupakan segala kelu, tetapi tidak melupakanmu. Bukan karena masih menyimpan perasaan yang sama padamu. Bukan karena tidak bisa memaafkan kesalahanmu karena meninggalkanku tanpa pesan, kecuali pesan dari perempuanmu. Perempuan yang pernah menguji kesabaranku dengan pesan-pesan pendek yang memenuhi kotak pesan telepon selularku setiap pukul dua pagi. Pesan-pesan pendek yang serupa teror bagi kemanusiaanku. Perempuan yang kini mungkin telah menjadi ibu bagi anak-anakmu.

Bulan demi bulan hingga dua tahun berlalu. Aku masih di berdiri di sini. Di kampus biru. Di atas kedua kakiku. Merangkai kembali keping-keping mimpi yang sempat porak-poranda setelah pergimu. Dua tahun berlalu. Aku masih berdiri di sini. Di dunia baruku. Membangun mimpiku, meski tanpamu. Sebab di luar sana, masih ada begitu banyak hati yang menantiku ketika aku pulang. Masih banyak hati yang tulus mencintaiku di luar sana. Mencintai tanpa karena.

– Desember 2010 –

***

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.